Dari Daun Teh hingga Secangkir Minuman

Jauh sebelum teh celup dikenal, menyeduh teh membutuhkan sedikit usaha ekstra. Daun teh kering dimasukkan ke dalam teko atau cangkir, disiram air panas, kemudian disaring sebelum diminum. Cara ini sudah lama digunakan, termasuk oleh masyarakat di Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Bagi sebagian orang, cara tersebut bukan masalah. Namun, bagaimana kalau hanya ingin menikmati secangkir teh tanpa harus membuat satu teko penuh?

Pertanyaan sederhana semacam inilah yang kemudian mendorong munculnya berbagai inovasi dalam cara menyeduh teh. Salah satunya adalah kantong kecil yang sekarang kita kenal sebagai teh celup.

Dua Perempuan dan Sebuah Paten pada 1903

Salah satu catatan awal tentang rancangan kantong teh datang dari dua perempuan asal Milwaukee, Amerika Serikat: Roberta C. Lawson dan Mary McLaren.

Pada 26 Agustus 1901, keduanya mengajukan paten untuk sebuah alat bernama Tea-Leaf Holder. Paten tersebut kemudian resmi diberikan pada 24 Maret 1903.

Ide mereka cukup sederhana. Daripada menyeduh banyak daun teh sekaligus dalam teko, seseorang bisa memasukkan sejumlah kecil daun teh ke dalam kantong khusus, lalu menyeduhnya langsung di cangkir.

Dalam dokumen patennya, Lawson dan McLaren menjelaskan tujuan alat tersebut: membuat satu cangkir teh segar tanpa harus menyeduh dalam jumlah besar. Dengan begitu, teh yang tersisa tidak perlu terbuang.

Kantong rancangan mereka dibuat dari kain berpori sehingga air panas bisa masuk dan menyentuh daun teh di dalamnya. Bentuknya memang belum sama persis dengan teh celup modern, tetapi gagasannya sudah sangat dekat dengan cara kita menyeduh teh sekarang.

Menariknya, paten ini muncul sebelum kisah Thomas Sullivan yang lebih sering disebut sebagai asal-usul teh celup.

Thomas Sullivan dan Cerita Kantong Sutra

Sekitar 1908, seorang pedagang teh asal New York bernama Thomas Sullivan dikisahkan mengirimkan sampel teh kepada calon pelanggan menggunakan kantong-kantong kecil berbahan sutra.

Awalnya, kantong itu hanya berfungsi sebagai kemasan sampel. Namun, beberapa pelanggan justru memasukkan kantong tersebut langsung ke dalam air panas. Mereka mengira kantong itu memang dibuat untuk menyeduh teh.

Cara tersebut ternyata terasa praktis. Pelanggan kemudian meminta Sullivan mengirimkan teh dalam kemasan serupa.

Dari sinilah cerita populer tentang lahirnya teh celup berkembang. Sullivan disebut mulai menyesuaikan kantong yang digunakan, termasuk mengganti bahan sutra dengan kain kasa agar air lebih mudah mengalir.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. Kisah Sullivan memang banyak diceritakan, tetapi bukti sejarah yang mendukung setiap bagian cerita tersebut tidak sepenuhnya kuat. Smithsonian Magazine juga mencatat bahwa peran Sullivan dalam memopulerkan teh dalam kantong lebih mudah diterima daripada klaim bahwa ia adalah satu-satunya penemu teh celup.

Jadi, lebih tepat menyebut Sullivan sebagai salah satu tokoh yang membantu memopulerkannya, bukan penemu tunggal.

Dari Inovasi Menjadi Kebiasaan Baru

Seiring waktu, teh celup mulai berkembang. Bahan kantongnya berubah, proses produksinya semakin mudah, dan bentuknya terus disempurnakan.

Pada 1920-an, teh celup sudah menjadi cara yang cukup dikenal untuk menikmati teh di Amerika Serikat. Popularitasnya semakin meningkat pada 1950-an, ketika kepraktisan mulai menjadi salah satu pertimbangan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan ini bukan sekadar soal kemasan. Teh celup membuat orang bisa menikmati satu cangkir teh dengan lebih mudah, tanpa perlu menyiapkan teko atau menyaring ampasnya.

Di Indonesia sendiri, teh celup mulai mendapat tempat melalui usaha Johan Alexander Supit, pendiri SariWangi. Pada awal 1970-an, Johan melihat peluang dari perkembangan teh celup di luar negeri. Ia kemudian membeli mesin pembuat kantong teh dari Inggris.

Mesin tersebut ternyata tidak bisa langsung digunakan ketika tiba di Indonesia. Johan lalu meminta seorang rekannya, Dr. Zakir, membuat mesin serupa. Pada 1972, mesin rakitan itu mulai mampu memproduksi teh celup.

Menariknya, istilah "teh celup" juga punya cerita tersendiri. Menurut penuturan Johan, ia sempat mempertimbangkan nama "teh kantong". Namun, setelah mendengar seseorang berteriak "celupkan saja bajunya", ia justru mendapatkan inspirasi untuk menggunakan istilah teh celup.

Sebuah nama sederhana yang akhirnya melekat dalam kebiasaan minum teh masyarakat Indonesia.

Hal Sederhana yang Mengubah Kebiasaan

Kita mungkin jarang memikirkan siapa yang pertama kali membuat kantong teh atau bagaimana bentuk awalnya. Padahal, benda kecil yang sering kita buang setelah menyeduh itu melewati perjalanan panjang sebelum menjadi bagian dari keseharian.

Dari rancangan dua perempuan pada awal 1900-an, cerita sampel teh Thomas Sullivan, hingga langkah Johan Supit memperkenalkannya di Indonesia, teh celup menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus rumit.

Terkadang, perubahan besar justru berawal dari satu kebutuhan sederhana: membuat secangkir teh menjadi lebih mudah dinikmati.