Siapa yang Gak Tahu Buyung Upik? Membedah Kenapa Jamu Anak Ini Bisa Jaya 30 Tahun
Buyung Upik menjadi salah satu merek jamu anak yang melekat di ingatan generasi 90-an. Di tengah anggapan bahwa anak-anak sulit menyukai jamu, produk ini hadir dengan pendekatan yang berbeda. Lantas, apa yang membuatnya mampu bertahan selama sekitar tiga dekade, sementara selera konsumen terus berubah?
Ketika Jamu Berhadapan dengan Anak-Anak
Masalahnya sebenarnya cukup sederhana: anak-anak dan jamu bukan pasangan yang mudah disatukan. Jamu sejak lama identik dengan rasa pahit, sementara anak-anak cenderung lebih mudah menerima rasa yang manis dan familiar.
Jaya Suprana, pemilik Jamu Jago, pernah menceritakan bahwa ide membuat jamu khusus anak pada awalnya justru mendapat penolakan. Dalam sebuah talkshow di Institut Pertanian Bogor pada 2008, ia mengatakan bahwa banyak orang menganggap ide tersebut tidak masuk akal karena anak-anak tidak menyukai jamu.
Di sinilah pendekatan Buyung Upik menjadi menarik. Alih-alih meminta anak menerima jamu apa adanya, produk ini mencoba membuat pengalaman minum jamu lebih dekat dengan dunia mereka. Salah satu caranya adalah melalui rasa. Buyung Upik hadir dalam berbagai varian seperti cokelat, stroberi, jeruk, jambu, anggur, melon, leci, mangga, hingga varian susu.
Dengan begitu, jamu tidak lagi hanya dipersepsikan sebagai minuman pahit yang harus diminum karena disuruh orang tua. Ada unsur pilihan dan rasa yang lebih familiar bagi anak. Sederhana, tetapi justru di situlah salah satu kekuatannya.
Bukan Sekadar Jamu Lama yang Bertahan
Ada alasan lain mengapa Buyung Upik menarik untuk dibahas. Produk ini tidak berhenti pada bentuk yang sama seperti ketika pertama kali diperkenalkan. Jamu Jago terus menambah varian dan menyesuaikannya dengan kebutuhan konsumen.
Pada 2024, misalnya, diperkenalkan Buyung Upik Susu Kurma. Produk tersebut didistribusikan melalui depot jamu, jamu gendong, apotek, hingga marketplace. Pada saat yang sama, varian regulernya juga tetap tersedia dalam berbagai rasa.![]()
Perubahan ini menunjukkan bagaimana sebuah produk tradisional bisa mengikuti kebiasaan konsumen tanpa harus kehilangan identitasnya. Dulu, jamu sangat dekat dengan botol-botol yang dibawa penjual jamu keliling. Sekarang, produk herbal juga bisa ditemukan dalam bentuk serbuk instan, kemasan praktis, dan dibeli melalui toko online.
Buyung Upik sendiri disebut sebagai produk jamu anak yang terinspirasi dari tradisi jamu cekok. Dalam tradisi tersebut, jamu diberikan kepada anak secara langsung dan biasanya memiliki cita rasa yang cukup kuat. Buyung Upik mengambil konsep jamu untuk anak tersebut, tetapi mengemasnya dalam bentuk yang lebih praktis dan lebih mudah diterima.
Yang menarik, konsumen dalam produk anak sebenarnya terdiri dari dua pihak. Orang tua yang membeli, tetapi anak yang mengonsumsi. Artinya, produk harus bisa memenuhi pertimbangan orang tua sekaligus pengalaman anak. Jika hanya memikirkan manfaat tetapi mengabaikan rasa, anak bisa saja menolak. Sebaliknya, jika hanya mengejar rasa tanpa memperhatikan identitas dan keamanan produk herbal, orang tua belum tentu tertarik.
Di titik inilah Buyung Upik menemukan ruangnya.
Kenapa Bisa Bertahan Sampai Sekarang?
Tentu, tidak ada satu alasan tunggal yang bisa menjelaskan umur panjang sebuah produk. Namun, perjalanan Buyung Upik memperlihatkan beberapa hal yang cukup jelas. Produk ini berangkat dari masalah yang mengakar—anak-anak sulit menerima rasa jamu—kemudian menawarkan pendekatan yang berbeda melalui pilihan rasa, kemasan, dan karakter yang mudah dikenali.
Setelah itu, produknya tidak berhenti berkembang. Varian baru terus diperkenalkan dan jalur distribusinya mengikuti perubahan zaman. Bahkan hingga sekarang, produk Buyung Upik masih tercatat di kanal penjualan jamu dan memiliki sejumlah varian dengan izin edar BPOM.
Jadi, kalau ditanya apa rahasia Buyung Upik bisa bertahan sekitar 30 tahun, jawabannya mungkin bukan karena produk ini sekadar “jamu jadul yang masih laku”. Justru sebaliknya. Salah satu kekuatannya adalah kemampuan untuk mempertahankan identitas sambil terus menyesuaikan cara produk tersebut diterima oleh konsumennya.
Bagi generasi 90-an, Buyung Upik memang bisa menjadi nostalgia. Tetapi bagi generasi setelahnya, cerita ini memberikan pelajaran yang berbeda: produk tradisional tidak harus berubah menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru untuk tetap relevan. Kadang, yang perlu diubah hanyalah cara menyampaikannya.
Dan mungkin itu yang membuat Buyung Upik masih dikenang sampai sekarang. Bukan karena ia berhasil membuat anak-anak menyukai rasa jamu yang pahit, tetapi karena ia menemukan cara agar jamu terasa lebih dekat dengan dunia anak-anak.
Referensi
Institut Pertanian Bogor. (2008). Di IPB, Jaya Suprana Buka Resep Kesuksesan Usaha Jamu.
detikFood. (2018). Bernostalgia dengan Jamu Buyung Upik yang Hits Era 90'an.
Liputan6. (2024). Mengenal Jamu Anak yang Diadaptasi dari Jamu Cekok.
TIMES Indonesia. (2024). Jamu Jago Kenalkan Buyung Upik Susu Kurma Jelang Ramadan 2024.
Jamupedia. Buyung Upik Rasa Jeruk, Rasa Strawberry, dan Rasa Anggur. Data produk dan komposisi.
JamuDigital. 103 Tahun Jamu Jago, Teruji Jago Melestarikan Jamu.

