Masuk Angin: Satu Kata, Seribu Rasa
Apa sebenarnya "masuk angin"? Apakah informasi yang kita tahu selama ini tentang masuk angin adalah benar? Lalu, gimana medis memandang istilah masuk angin?
Jadi, masuk angin itu apa?
Yang kita sebut masuk angin biasanya adalah kumpulan keluhan yang muncul bersamaan. Bisa berupa badan pegal, kembung, mual, pusing, meriang, sering sendawa, atau sekadar merasa badan sedang nggak enak.
Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A., Guru Besar Antropologi Kesehatan UGM, menjelaskan bahwa masuk angin merupakan konsep budaya, bukan istilah medis.
Makanya, orang yang bilang “masuk angin” belum tentu mengalami kondisi yang sama. Ada yang merasa kembung dan sering sendawa, ada yang meriang dan pegal, ada juga yang merasa mual atau pusing.
Satu istilah, tapi keluhannya bisa ke mana-mana.
Dari dulu, masuk angin memang punya banyak cerita
Dalam budaya Jawa, masuk angin sudah lama dikaitkan dengan berbagai keadaan tubuh. Kehujanan, kedinginan, kecapekan, kurang tidur, banyak pikiran, sampai telat makan sering dianggap bisa membuat seseorang “masuk angin”.
Dalam penelitian tentang masuk angin pada masyarakat Jawa, Prof. Atik juga menjelaskan bahwa kondisi ini dikenal dalam beberapa tingkatan, dari keluhan ringan sampai yang dianggap lebih berat.
Menariknya, beberapa hal yang dipercaya sejak dulu memang berhubungan dengan kondisi tubuh. Kurang tidur, terlalu lelah, telat makan, atau kurang minum, misalnya, memang bisa membuat badan terasa tidak fit.
Tapi kalau dilihat dari sisi medis, keluhan yang kita sebut masuk angin bisa punya penyebab yang berbeda-beda.
Badan meriang dan pegal bisa muncul saat tubuh sedang melawan infeksi seperti flu. Kembung, mual, dan sering sendawa bisa berkaitan dengan masalah pencernaan atau asam lambung. Sementara kurang tidur dan kelelahan juga bisa membuat tubuh terasa lebih berat dari biasanya.
Itulah kenapa dokter tidak akan mendiagnosis seseorang dengan “masuk angin”. Dokter akan mencari tahu apa yang sebenarnya menyebabkan keluhannya.
Kenapa kerokan terasa enak?
Nah, ini bagian yang mungkin paling familiar.
Begitu badan terasa nggak enak, kerokan sering jadi pilihan pertama. Ada juga yang memilih dipijat, minum yang hangat, lalu tidur.
Kerokan memang bisa memberikan rasa hangat dan nyaman pada tubuh. Dalam budaya Jawa sendiri, kerokan sudah lama menjadi bagian dari cara tradisional untuk mengatasi rasa tidak enak badan.
Tapi bukan berarti harus dikerok sekuat-kuatnya.
Kalau mau kerokan, lakukan secukupnya. Jangan sampai kulit lecet atau malah terasa sakit. Tujuannya sederhana: bikin badan terasa lebih nyaman.
Kapan masih bisa ditangani di rumah?
Kalau keluhannya ringan dan tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, biasanya kita bisa mulai dari hal-hal sederhana.
Istirahat yang cukup, makan teratur, minum yang cukup, dan jangan memaksakan diri kalau badan memang sedang drop.
Minuman hangat atau pijatan ringan juga boleh dilakukan kalau terasa membantu.
Yang penting, jangan terlalu lama menganggap semua keluhan sebagai “masuk angin”, apalagi kalau kondisinya justru semakin berat.
Jangan sampai “angin duduk” dianggap masuk angin biasa
Ada satu istilah yang perlu lebih diperhatikan: angin duduk.
![]()
Di masyarakat, angin duduk sering digunakan untuk menyebut angina pektoris, yaitu kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan cukup aliran darah dan oksigen.
Gejalanya bisa berupa dada terasa tertindih, ditekan, atau diremas. Rasa sakit juga bisa menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung. Keringat dingin, mual, lemas, dan sesak napas juga bisa muncul.
Masalahnya, gejala seperti ini kadang disangka hanya masuk angin atau sakit maag.
Menurut dokter spesialis jantung Dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP (K), gejala angina memang bisa menyerupai keluhan pada lambung. Karena itu, kalau tiba-tiba mengalami nyeri dada, apalagi untuk pertama kalinya, jangan cuma dikerok atau ditunggu sampai hilang.
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Begitu juga kalau keluhan yang awalnya dianggap masuk angin sudah berhari-hari tidak membaik, demam tinggi terus-menerus, atau muntah dan diare tidak berhenti. Kondisi seperti ini sebaiknya diperiksa supaya penyebabnya jelas.
Jadi, masuk angin itu ada atau tidak?
Kalau yang dimaksud adalah nama penyakitnya, tidak ada diagnosis medis bernama masuk angin.
Tapi rasa pegal, meriang, kembung, mual, atau badan yang terasa tidak enak itu tentu nyata.
Kita hanya punya satu istilah untuk menggambarkan banyak kemungkinan.
Jadi, nggak masalah kalau masih bilang, “Aku kayaknya masuk angin.” Itu sudah menjadi bagian dari cara kita sehari-hari menggambarkan kondisi badan.
Yang penting, tahu batasnya. Kalau cuma kecapekan, mungkin tubuh memang sedang minta istirahat. Tapi kalau muncul gejala yang tidak biasa atau semakin berat, jangan berhenti di kerokan. Cari tahu apa penyebabnya.
Artikel ini berisi informasi umum dan bukan pengganti pemeriksaan atau saran dokter.
Referensi dan Sumber
Triratnawati, A. (2012). Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa. Humaniora, Universitas Gadjah Mada.
Triratnawati, A. & Adi, I. R. (2011). Masuk Angin dalam Budaya Jawa (Disertasi S3 Antropologi). Universitas Gadjah Mada.
Universitas Gadjah Mada. Jadi Fenomena Budaya, Guru Besar UGM Sebut Ada Tiga Jenis Masuk Angin.
Universitas Gadjah Mada. Seminar “Masuk Angin: Konsep Jawa vs Modern dan Implikasi Pengobatannya”.
RRI/KBRN (18 Juni 2025). Apakah “Masuk Angin” adalah Penyakit Khas Indonesia?
Alodokter. Masuk Angin dalam Sudut Pandang Medis.
KlikDokter (28 Desember 2019). Istilah Masuk Angin dalam Sudut Pandang Medis.
Good Doctor. Penyebab Masuk Angin Berdasarkan Gejala.
ANTARA. Masuk Angin vs Penyakit Medis: Perbedaan Gejala dan Cara Penanganan.
Alodokter. Angina Pektoris.
Kementerian Kesehatan RI. Angin Duduk.
Kompas TV. Gejala Angin Duduk Mirip Sakit Mag, Simak Penjelasan Dokter.
HonestDocs. Masuk Angin: Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati.

