Kenapa Kita Bisa Bersin Saat Melihat Cahaya Terang? Ternyata Ada Penjelasannya
Pernah sedang berada di dalam ruangan yang agak gelap, kemudian keluar dan langsung terkena sinar matahari—lalu tiba-tiba bersin? Kalau pernah, kamu tidak sendirian. Bersin biasanya identik dengan debu, asap, udara dingin, atau alergi. Namun, pada sebagian orang, cahaya terang juga bisa memicu bersin. Fenomena ini dikenal sebagai photic sneeze reflex atau refleks bersin akibat cahaya. Lalu, kenapa cahaya yang masuk ke mata bisa membuat seseorang bersin?
1. Bersin Bukan Sekadar Respons terhadap Debu
Sebelum membahas cahaya, kita perlu memahami kenapa tubuh bisa bersin.
Bersin merupakan salah satu refleks perlindungan tubuh. Ketika bagian dalam hidung mendeteksi sesuatu yang mengganggu, seperti debu, asap, atau zat iritan tertentu, sinyal tersebut diteruskan melalui saraf sensorik menuju bagian otak yang mengatur refleks bersin.
Tubuh kemudian melakukan serangkaian gerakan secara otomatis untuk menghasilkan hembusan udara yang kuat melalui hidung dan mulut.
Tujuannya sederhana: membantu mengeluarkan sesuatu yang dianggap mengganggu saluran hidung.
Itulah sebabnya kita bisa bersin ketika mencium asap, terkena debu, atau mengalami reaksi alergi.
Tapi ternyata, tidak semua pemicu bersin berasal dari hidung.
2. Kenapa Cahaya Terang Bisa Memicu Bersin?
Inilah bagian yang cukup menarik.
Pada sebagian orang, perubahan cahaya yang tiba-tiba—terutama ketika berpindah dari tempat gelap ke tempat yang sangat terang—dapat memicu keinginan untuk bersin.
Misalnya ketika:
- keluar dari ruangan gelap ke bawah sinar matahari,
- membuka pintu atau tirai lalu terkena cahaya terang,
- atau melihat langit yang sangat terang setelah berada di tempat yang redup.
Fenomena tersebut disebut photic sneeze reflex (PSR).
Penelitian memperkirakan fenomena ini dialami oleh sekitar seperempat populasi, meskipun angka pastinya dapat berbeda antarpenelitian dan populasi.
Jadi, kalau kamu termasuk orang yang sering bersin ketika terkena sinar matahari, sebenarnya ada penjelasan ilmiahnya.
3. Apa Hubungan Mata dengan Hidung?
Sampai sekarang, mekanisme pasti photic sneeze reflex masih belum sepenuhnya diketahui.
Salah satu teori yang banyak dibahas adalah adanya hubungan antara jalur saraf yang merespons cahaya dengan jalur saraf yang berperan dalam refleks bersin.
Ketika mata mendapatkan rangsangan cahaya yang sangat kuat, aktivitas pada sistem saraf dapat memengaruhi jalur yang berkaitan dengan sensasi di wajah dan hidung. Pada orang tertentu, respons tersebut akhirnya dapat memicu bersin.
Menariknya, penelitian mengenai fenomena ini juga menunjukkan bahwa respons terhadap cahaya pada orang yang mengalami photic sneeze reflex dapat melibatkan aktivitas di bagian otak yang memproses rangsangan visual dan sensasi tubuh.
Dengan kata lain, bukan cahaya yang secara langsung membuat hidung “kemasukan sesuatu”. Respons tersebut lebih berkaitan dengan cara sistem saraf memproses rangsangan cahaya.
4. Apakah Fenomena Ini Berarti Ada Masalah pada Tubuh?
Tidak selalu.
Photic sneeze reflex pada umumnya dianggap sebagai fenomena refleks yang relatif umum, bukan penyakit tersendiri.
Bahkan, penelitian genetik menunjukkan bahwa kecenderungan mengalami refleks bersin akibat cahaya dapat memiliki komponen genetik. Sebuah studi terhadap lebih dari 3.400 orang menemukan variasi genetik tertentu yang berkaitan dengan kecenderungan mengalami fenomena ini.
Jadi, kalau kamu dan salah satu anggota keluarga memiliki kebiasaan yang sama—misalnya sama-sama bersin ketika terkena sinar matahari—hal tersebut bukan sesuatu yang aneh.
5. Kenapa Ada yang Bersin Sekali, Ada yang Berkali-kali?
Respons setiap orang terhadap rangsangan juga berbeda.
Ada yang hanya merasa hidung sedikit geli, ada yang bersin sekali, dan ada pula yang mengalami beberapa kali bersin berturut-turut.
Selain cahaya, refleks bersin secara umum dapat dipengaruhi oleh berbagai rangsangan lain, termasuk iritan, alergi, dan kondisi pada saluran hidung.
Karena itu, jumlah bersin yang berbeda antara satu orang dengan orang lain tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satunya lebih sehat.
6. Kapan Bersin Perlu Diperhatikan?
Bersin sesekali biasanya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Namun, jika bersin terjadi sangat sering atau terus-menerus dan disertai keluhan lain seperti hidung tersumbat, hidung berair, rasa gatal, atau gangguan aktivitas sehari-hari, penyebabnya bisa saja bukan sekadar refleks terhadap cahaya.
Alergi, misalnya, dapat membuat saluran hidung menjadi lebih sensitif sehingga lebih mudah memicu rasa gatal dan bersin.
Karena itu, penting untuk melihat pola dan gejala lain yang menyertai, bukan hanya seberapa sering seseorang bersin.
Jadi, Bersin Saat Melihat Cahaya Itu Normal?
Bagi orang yang mengalaminya, bersin setelah terkena cahaya terang bukanlah sesuatu yang aneh.
Fenomena yang disebut photic sneeze reflex ini telah lama diamati dan terus dipelajari oleh para peneliti. Sampai sekarang, mekanisme pastinya masih belum sepenuhnya terjawab, tetapi penelitian menunjukkan bahwa respons tersebut berkaitan dengan cara sistem saraf merespons rangsangan cahaya.
Jadi lain kali kamu keluar dari ruangan gelap, terkena sinar matahari, lalu tiba-tiba...
“HACIII!”
...mungkin tubuhmu hanya sedang menunjukkan salah satu refleks unik yang dimiliki manusia.
Referensi
- Yang R, et al. The sneeze reflex in physiological and pathological states: a mini review. Frontiers in Neuroscience, 2025.
- Langer N, et al. When the Sun Prickles Your Nose: An EEG Study Identifying Neural Bases of Photic Sneezing. PLOS ONE, 2010.
- Wang M, et al. A genome-wide association study on photic sneeze reflex in the Chinese population. Scientific Reports, 2019.
- Stimulus conditions eliciting sneezing in response to bright light. 2025.
- Songu M, Cingi C. Sneeze reflex: facts and fiction. Therapeutic Advances in Respiratory Disease, 2009.

