Ada hal sederhana yang mungkin pernah kita lakukan tanpa banyak berpikir: memasukkan irisan jahe ke dalam gelas, menuangkan air panas, lalu meminumnya. Di lain waktu, jahe yang sama direbus beberapa menit di atas kompor.

Bahan dasarnya sama. Sama-sama jahe.

Tapi rasanya bisa berbeda. Aromanya berbeda. Warna airnya bisa berbeda. Bahkan secara kimia, apa yang ada di dalam minuman tersebut juga tidak harus sama. Ini bukan kebetulan.

Di balik secangkir seduhan herbal, sebenarnya sedang berlangsung sebuah proses yang dalam dunia farmasi dan ilmu pangan dikenal sebagai ekstraksi: proses memindahkan senyawa tertentu dari bahan tanaman ke dalam suatu pelarut, misalnya air atau etanol.

Dan ternyata, cara kita melakukan proses itu sangat menentukan hasil akhirnya.

Air panas tidak sekadar membuat herbal menjadi hangat

Tanaman bukan benda yang hanya berisi satu “zat berkhasiat”.

Di dalam satu bagian tanaman terdapat banyak senyawa dengan sifat yang berbeda-beda. Ada yang mudah larut dalam air, ada yang lebih mudah larut dalam pelarut tertentu, ada yang relatif stabil terhadap panas, dan ada pula yang lebih sensitif.

Karena itu, ketika air panas bersentuhan dengan bahan herbal, tidak semua isi tanaman akan berpindah ke dalam air dengan cara yang sama.

Bayangkan sebuah rumah yang memiliki banyak kamar. Kita membuka pintunya dengan kunci yang berbeda-beda. Ada kamar yang pintunya mudah dibuka, ada yang perlu usaha lebih, dan ada yang memang tidak bisa kita akses dengan kunci yang kita punya.

Kurang lebih seperti itulah ekstraksi.

Air adalah salah satu “kunci” yang digunakan untuk mengambil senyawa dari tanaman. Tetapi air tidak selalu menjadi kunci yang paling cocok untuk semua senyawa.

Itulah alasan mengapa cara mengolah herbal tidak bisa dilepaskan dari kandungan kimianya.

Diseduh: sederhana, tetapi bukan berarti asal-asalan

Menyeduh merupakan salah satu cara paling sederhana untuk mengekstrak senyawa dari tanaman.

Bahan herbal terkena air panas dalam waktu tertentu, kemudian airnya diminum.

Dalam kajian ekstraksi, metode seperti ini dikenal sebagai infusi. Dibandingkan perebusan, infusi umumnya memberikan paparan panas yang lebih ringan dan waktu kontak yang lebih terbatas. Air terutama akan mengambil senyawa yang memang cukup mudah larut di dalamnya, termasuk sejumlah senyawa fenolik dan flavonoid glikosida.

Itu sebabnya seduhan tidak bisa dianggap sebagai versi “lebih lemah” dari rebusan.

Yang terjadi sebenarnya lebih tepat disebut berbeda.

Bayangkan kita membuat teh. Kita tidak perlu merebus daun teh berjam-jam untuk mendapatkan minuman yang bisa diminum. Air panas sudah cukup untuk menarik sebagian komponen dari daun ke dalam air.

Pada tanaman tertentu, pendekatan seperti ini juga masuk akal ketika senyawa yang ingin diperoleh cukup mudah larut dalam air dan tidak membutuhkan pemanasan panjang.

Namun, ketika bagian tanaman yang digunakan lebih keras—misalnya rimpang, akar, atau kulit batang—ceritanya bisa berbeda.

Di sinilah perebusan mulai memainkan perannya.

Ketika direbus, panas bekerja lebih lama

Perebusan atau dekoksi memberikan perlakuan panas yang lebih intens dibandingkan penyeduhan.

Bahan tanaman dimasukkan ke dalam air dan dipanaskan dalam waktu tertentu. Metode ini secara tradisional banyak digunakan untuk bagian tanaman yang lebih keras dan dapat membantu meningkatkan kelarutan atau pelepasan beberapa kelompok senyawa. Penelitian mengenai metode ekstraksi juga menunjukkan bahwa hasil dekoksi dipengaruhi oleh suhu, waktu, pH, serta karakter bahan tanaman.

Namun ada satu hal yang sering disalahpahami:

lebih panas tidak selalu berarti lebih berkhasiat.

Panas memang dapat membantu mengeluarkan lebih banyak senyawa tertentu. Tetapi panas yang terlalu tinggi atau terlalu lama juga dapat mengubah senyawa yang sensitif terhadap panas.

Jadi, prosesnya bukan sekadar:

semakin lama direbus → semakin banyak zat keluar → semakin bagus.

Alam tidak sesederhana itu.

Ada senyawa yang justru lebih mudah diperoleh setelah pemanasan. Ada yang dapat berubah menjadi senyawa lain. Ada pula komponen yang mudah menguap atau sensitif terhadap panas sehingga proses pemanasan panjang bukan pilihan terbaik untuk mempertahankannya.

Karena itu, metode pengolahan seharusnya disesuaikan dengan bahan dan senyawa yang ingin diperoleh, bukan sekadar mengikuti anggapan bahwa herbal harus direbus selama mungkin.

Jahe memberi contoh yang menarik

Kita bisa melihat persoalan ini dengan lebih jelas lewat jahe.

Jahe (Zingiber officinale) mengandung berbagai senyawa fenolik. Salah satu kelompok yang paling banyak diteliti adalah gingerol, termasuk 6-gingerol yang merupakan salah satu komponen utama pada jahe segar.

Ketika jahe mengalami proses pengeringan atau pemanasan, sebagian gingerol dapat mengalami perubahan kimia dan menghasilkan senyawa seperti shogaol. Karena itu, komposisi gingerol dan shogaol pada jahe tidak selalu sama antara bahan segar, bahan kering, dan bahan yang mengalami perlakuan panas.

Inilah salah satu alasan mengapa jahe segar dan jahe yang sudah dikeringkan tidak selalu memiliki karakter rasa dan profil kimia yang identik.

Peneliti bahkan dapat memanfaatkan perbedaan metode ekstraksi, jenis pelarut, suhu, dan tekanan untuk mendapatkan jumlah senyawa tertentu yang berbeda dari bahan jahe. Dalam penelitian ekstraksi gingerol dan shogaol, pilihan pelarut serta kondisi proses terbukti memengaruhi hasil yang diperoleh.

Jadi ketika seseorang berkata, “Ini kan sama-sama jahe,” secara biologis memang benar.

Tetapi secara kimia, belum tentu sesederhana itu.

Lalu bagaimana dengan ekstrak?

Kalau menyeduh dan merebus bisa disebut sebagai bentuk ekstraksi sederhana, lalu apa bedanya dengan ekstrak herbal yang dibuat secara khusus?

Perbedaannya terutama terletak pada tingkat pengendalian proses.

Dalam pembuatan ekstrak, bahan tanaman dapat diproses menggunakan pelarut tertentu dengan kondisi yang diatur. Pelarut tersebut tidak harus selalu air. Dalam penelitian, misalnya, air, etanol, maupun campuran keduanya dapat digunakan karena masing-masing memiliki kemampuan berbeda dalam melarutkan senyawa.

Sederhananya, kita sedang memilih “kunci” yang paling sesuai untuk membuka bagian tertentu dari tanaman.

Itulah mengapa satu bahan herbal bisa menghasilkan ekstrak dengan karakter yang berbeda ketika metode dan pelarutnya berbeda.

Dalam penelitian terhadap jahe, misalnya, penggunaan etanol dengan konsentrasi tertentu dapat memberikan hasil ekstraksi gingerol yang berbeda dibandingkan penggunaan air. Metode ekstraksi bertekanan dan pemanasan juga dapat memberikan hasil yang berbeda lagi.

Di tingkat industri, proses seperti ini tentu tidak cukup hanya mengandalkan perkiraan.

Ada bahan baku yang harus diidentifikasi. Ada parameter proses yang perlu dikendalikan. Ada senyawa penanda yang dapat digunakan untuk membantu pengawasan mutu.

WHO sendiri memiliki pedoman khusus mengenai pengendalian mutu bahan herbal, termasuk identitas dan kemurnian bahan tanaman serta pendekatan untuk memilih senyawa penanda dalam pengawasan mutu obat herbal.

Artinya, “herbal” bukan berarti prosesnya boleh serba kira-kira.

Yang paling banyak terekstrak belum tentu paling baik

Di sinilah bagian yang sering terlewat ketika membicarakan ekstraksi.

Misalnya sebuah metode berhasil menarik lebih banyak senyawa dari tanaman.

Apakah otomatis hasilnya lebih berkhasiat?

Belum tentu.

Jumlah senyawa yang berhasil diekstrak adalah satu persoalan. Apa efek senyawa tersebut di dalam tubuh adalah persoalan lain.

Kita juga harus mempertimbangkan senyawa apa yang ikut terekstrak, apakah senyawa tersebut stabil, berapa banyak yang benar-benar tersedia setelah dikonsumsi, bagaimana tubuh menyerap dan memetabolismenya, serta apakah manfaatnya sudah didukung penelitian pada manusia.

Karena itu, hasil uji laboratorium terhadap suatu ekstrak tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa suatu cara pengolahan pasti memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar pada manusia.

Ini penting.

Sebab dalam dunia herbal, “lebih banyak” tidak selalu berarti “lebih baik”.

Jadi, lebih baik diseduh atau direbus?

Jawabannya tidak bisa dibuat menjadi satu aturan untuk semua tanaman.

Untuk bahan tertentu, penyeduhan mungkin sudah cukup. Untuk bagian tanaman yang lebih keras, perebusan dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai. Untuk kebutuhan tertentu yang memerlukan kandungan senyawa lebih terkontrol, proses ekstraksi dengan kondisi yang terstandar bisa memberikan hasil yang berbeda.

Yang menentukan bukan hanya nama tanamannya.

Jenis bagian tanaman, ukuran bahan, kadar air, suhu, lama proses, jenis pelarut, hingga cara penyimpanan dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Karena itu, ketika berbicara tentang herbal, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Mana yang paling ampuh, direbus atau diseduh?”

Melainkan:

“Untuk bahan ini, senyawa apa yang ingin diperoleh, dan metode seperti apa yang paling tepat untuk mendapatkannya?”

Pertanyaan tersebut terdengar lebih sederhana, tetapi justru membawa kita lebih dekat pada cara kerja ilmu herbal yang sebenarnya.

Dari secangkir jamu, kita belajar satu hal

Selama ini kita mungkin menganggap proses membuat minuman herbal hanyalah urusan dapur: potong bahan, masukkan air, panaskan, lalu minum.

Padahal di dalamnya ada proses kimia yang cukup menarik.

Air panas sedang menarik sebagian senyawa keluar dari tanaman. Waktu menentukan seberapa lama proses itu berlangsung. Suhu dapat membantu pelepasan senyawa tertentu, tetapi juga dapat mengubah senyawa lain. Pelarut menentukan kelompok senyawa mana yang lebih mudah berpindah ke dalam ekstrak.

Dengan kata lain, cara kita mengolah tanaman ikut menentukan apa yang akhirnya masuk ke dalam gelas.

Dan mungkin itu yang membuat dunia herbal begitu menarik.

Tanaman yang sama bisa memberikan cerita yang berbeda hanya karena kita memperlakukannya dengan cara yang berbeda.


Referensi

  1. World Health Organization. Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials. WHO.

  2. World Health Organization. Quality Control Methods for Herbal Materials. WHO.

  3. World Health Organization. WHO Guidelines for Selecting Marker Substances of Herbal Origin for Quality Control of Herbal Medicines.

  4. Maghraby, Y. R., et al. (2023). Gingerols and shogaols: A multi-faceted review of their extraction, formulation, and analysis in drugs and biofluids to maximize their nutraceutical and pharmaceutical applications. Food Chemistry: X, 20, 100947.

  5. Major Phytochemicals: Recent Advances in Health Benefits and Extraction Method. (2023).

  6. Solvent-Based Extraction Recovers Phytochemicals from Medicinal Plants Demonstrating Anticancer and Chemopreventive Potential: A Review. (2026).