Mengapa Dosis Penting dalam Penggunaan Herbal?
Herbal sering dianggap aman karena berasal dari bahan alami. Padahal, seperti halnya bahan lain yang dikonsumsi, jumlah dan cara penggunaannya tetap perlu diperhatikan. Lalu, mengapa dosis penting dalam penggunaan herbal?
“Kalau herbal, berarti aman dikonsumsi sebanyak apa pun.”
Anggapan seperti ini masih cukup sering ditemui. Bahan yang berasal dari tumbuhan memang sudah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai masyarakat. Namun, statusnya sebagai bahan alami tidak otomatis membuat suatu herbal bebas dari risiko.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri menetapkan persyaratan keamanan dan mutu untuk Obat Bahan Alam. Beberapa bahan bahkan dibatasi penggunaannya atau dilarang digunakan berdasarkan pertimbangan keamanan.
WHO juga menempatkan keamanan dan pemantauan penggunaan obat herbal sebagai bagian penting dalam pengembangan pengobatan tradisional.
Artinya, herbal tetap perlu digunakan secara tepat.
Salah satu bagian pentingnya adalah dosis.
Apa yang Dimaksud dengan Dosis?
Dosis secara sederhana dapat dipahami sebagai jumlah suatu bahan atau produk yang digunakan dalam satu kali penggunaan atau dalam periode tertentu.
Dalam produk herbal, persoalannya tidak sesederhana menghitung “berapa banyak bahan yang diminum”.
Jenis tanaman, bagian tanaman yang digunakan, bentuk sediaan, proses pengolahan, konsentrasi ekstrak, frekuensi penggunaan, dan tujuan pemakaian dapat memengaruhi cara suatu produk digunakan.
Itulah sebabnya dua produk yang sama-sama menggunakan satu jenis tanaman belum tentu dapat digunakan dengan takaran yang sama.
Bahan tanaman dalam bentuk segar, misalnya, berbeda dengan serbuk atau ekstrak yang telah melalui proses pengolahan.
BPOM juga memasukkan dosis dan cara pemakaian sebagai bagian yang berkaitan dengan pembuktian keamanan dan khasiat suatu Obat Bahan Alam.
Jadi, dosis bukan sekadar angka yang tercantum pada label.
Dosis merupakan bagian dari bagaimana suatu produk digunakan secara tepat.
Mengapa Dosis Penting dalam Penggunaan Herbal?
Herbal Mengandung Senyawa Aktif
Tanaman bukan sekadar bahan makanan yang tidak memiliki aktivitas terhadap tubuh.
Berbagai tanaman mengandung senyawa yang dapat memberikan efek biologis. Karena itu, penggunaan herbal juga perlu mempertimbangkan jumlah bahan yang masuk ke tubuh.
WHO secara khusus membahas interaksi obat herbal dengan obat lain dan menjelaskan bahwa interaksi tersebut dapat bersifat menguntungkan maupun merugikan.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan herbal bukan sesuatu yang bisa selalu dipisahkan dari prinsip keamanan penggunaan obat.
Lebih Banyak Tidak Selalu Lebih Baik
Ada anggapan bahwa jika sedikit herbal memberikan manfaat, maka jumlah yang lebih banyak akan memberikan manfaat yang lebih besar.
Logika tersebut tidak selalu benar.
Peningkatan jumlah konsumsi tidak otomatis berarti peningkatan manfaat. Sebaliknya, penggunaan yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko efek yang tidak diinginkan.
Karena karakteristik setiap herbal berbeda, tidak ada prinsip umum bahwa semua bahan herbal aman dikonsumsi dalam jumlah besar.
BPOM bahkan memiliki daftar bahan yang penggunaannya dibatasi atau dilarang dalam Obat Bahan Alam berdasarkan pertimbangan keamanan.
Dengan kata lain, alami bukan berarti tanpa batas.
Bentuk Produk Mempengaruhi Penggunaan
Herbal dapat digunakan dalam berbagai bentuk, mulai dari simplisia, serbuk, seduhan, hingga sediaan yang mengandung ekstrak.
Proses pengolahan dapat mengubah karakteristik bahan dan konsentrasi senyawa yang terdapat di dalamnya.
Karena itu, penggunaan bahan tanaman secara langsung tidak bisa begitu saja disamakan dengan penggunaan produk herbal dalam bentuk ekstrak atau sediaan jadi.
Inilah alasan mengapa aturan penggunaan pada produk perlu dibaca sesuai dengan produk yang dikonsumsi, bukan berdasarkan perkiraan dari pengalaman menggunakan tanaman tersebut dalam bentuk lain.
Apa yang Menentukan Dosis Herbal?
Tidak semua herbal memiliki aturan penggunaan yang sama.
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.
Jenis dan Bagian Tanaman
Jenis tanaman yang digunakan tentu menjadi faktor utama.
Selain jenisnya, bagian tanaman yang digunakan juga dapat berbeda. Akar, daun, batang, bunga, buah, biji, maupun rimpang dapat memiliki kandungan dan karakteristik yang berbeda.
Karena itu, informasi mengenai satu bagian tanaman tidak otomatis dapat diterapkan pada bagian tanaman lainnya.
Bentuk dan Konsentrasi Sediaan
Bahan herbal dapat diproses menjadi berbagai bentuk.
Serbuk, seduhan, ekstrak, kapsul, tablet, maupun cairan dapat memiliki karakteristik yang berbeda.
Terutama pada ekstrak, jumlah bahan tanaman awal tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah ekstrak yang dikonsumsi.
Itulah sebabnya istilah seperti “satu sendok”, “satu kapsul”, atau “satu gelas” saja belum tentu cukup untuk menggambarkan kandungan suatu produk tanpa melihat informasi komposisi dan konsentrasinya.
Kondisi Orang yang Mengonsumsi
Respons terhadap herbal juga dapat berbeda antarindividu.
Kondisi kesehatan, usia, penggunaan obat lain, serta faktor individu lainnya dapat memengaruhi keamanan penggunaan.
Karena itu, aturan penggunaan yang tercantum pada produk tidak selalu berarti bahwa produk tersebut cocok untuk setiap orang dalam setiap kondisi.
BPOM, misalnya, mencantumkan peringatan dan perhatian khusus untuk bahan-bahan tertentu. Beberapa bahan memiliki perhatian khusus bagi orang dengan kondisi seperti hipertensi atau diabetes, sementara bahan lainnya memiliki aturan penggunaan tertentu apabila dikonsumsi bersama obat lain.
Lama dan Frekuensi Penggunaan
Dosis juga tidak hanya berbicara mengenai jumlah dalam satu kali konsumsi.
Seberapa sering suatu produk digunakan dan berapa lama penggunaannya juga menjadi bagian penting.
Penggunaan sesekali tentu berbeda dengan penggunaan berulang dalam jangka panjang.
Karena itu, mengikuti aturan pakai secara keseluruhan lebih penting daripada hanya memperhatikan jumlah konsumsi dalam satu kali penggunaan.
Herbal Bisa Berinteraksi dengan Obat
Ini menjadi salah satu alasan penting mengapa penggunaan herbal tidak sebaiknya dilakukan sembarangan.
Herbal dapat berinteraksi dengan obat tertentu. Interaksi tersebut dapat menyebabkan efek obat meningkat, menurun, atau menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
NCCIH—bagian dari National Institutes of Health (NIH)—memberikan contoh bahwa St. John's wort dapat berinteraksi dengan berbagai obat, sementara beberapa herbal lain juga memiliki potensi interaksi dengan obat tertentu.
WHO juga menerbitkan panduan khusus mengenai interaksi antara obat herbal dan obat lain karena persoalan tersebut memiliki implikasi terhadap keamanan penggunaan.
Masalahnya, tidak semua kemungkinan interaksi sudah dipahami dengan baik. NCCIH mencatat bahwa untuk banyak kombinasi herbal dan obat, informasi interaksinya masih terbatas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Karena itu, orang yang sedang mengonsumsi obat rutin sebaiknya memberitahukan penggunaan suplemen atau herbal kepada dokter atau tenaga kesehatan.
Apakah Herbal yang Alami Selalu Aman?
Tidak.
Ini merupakan salah satu pemahaman paling penting dalam penggunaan herbal.
WHO menekankan pentingnya kualitas, keamanan, dan pemantauan terhadap obat herbal.
BPOM juga menetapkan persyaratan keamanan dan mutu untuk Obat Bahan Alam yang beredar di Indonesia.
Bahkan, BPOM secara berkala menemukan produk Obat Bahan Alam yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) secara ilegal. Pada temuan BPOM periode Maret 2026, misalnya, ditemukan produk dengan kandungan obat seperti sildenafil, tadalafil, deksametason, prednisolon, dan obat lainnya yang tidak semestinya terdapat dalam produk tersebut. BPOM menjelaskan bahwa kandungan BKO yang tidak diketahui jumlahnya dapat menyebabkan dosis menjadi tidak tepat dan membahayakan konsumen.
Jadi, risiko produk herbal bukan hanya berasal dari tanaman yang digunakan.
Kualitas bahan, proses produksi, komposisi, kontaminasi, pemalsuan, hingga penambahan bahan yang tidak semestinya juga perlu diperhatikan.
Bagaimana Menggunakan Produk Herbal dengan Bijak?
Tidak perlu menghindari herbal hanya karena ada potensi risiko.
Yang lebih penting adalah memahami cara menggunakannya dengan tepat.
1. Baca Aturan Pakai
Jika menggunakan produk herbal jadi, perhatikan aturan penggunaan yang tercantum pada label.
BPOM secara khusus mengimbau masyarakat untuk membaca aturan pakai, memperhatikan peringatan dan perhatian, serta memastikan produk memiliki izin edar sebelum digunakan.
Jangan menggandakan takaran hanya karena menganggap dosis yang lebih tinggi akan memberikan hasil lebih baik.
2. Perhatikan Komposisi
Jangan hanya melihat nama tanaman atau klaim yang ditampilkan pada bagian depan kemasan.
Periksa bahan yang digunakan dan bentuk sediaannya.
Hal ini penting terutama apabila Anda mengonsumsi lebih dari satu produk herbal atau menggabungkannya dengan obat tertentu.
3. Cek Legalitas Produk
Untuk produk Obat Bahan Alam di Indonesia, izin edar menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan.
BPOM menjelaskan bahwa produk herbal yang memiliki Nomor Izin Edar dapat diperiksa melalui Cek BPOM.
Cek BPOM — database resmi produk terdaftar
Memeriksa legalitas tidak menjadikan suatu produk otomatis cocok untuk semua orang, tetapi merupakan langkah penting untuk memastikan produk yang dipilih berasal dari jalur yang sesuai regulasi.
4. Beri Tahu Tenaga Kesehatan Jika Mengonsumsi Herbal
Jika sedang menggunakan obat resep atau obat bebas secara rutin, jangan lupa menyampaikan penggunaan herbal kepada dokter atau tenaga kesehatan.
NCCIH juga menyarankan agar konsumen memberikan daftar obat dan suplemen yang digunakan, termasuk seberapa sering dan berapa dosisnya.
Hal tersebut dapat membantu tenaga kesehatan mempertimbangkan kemungkinan interaksi.
5. Jangan Mengubah Aturan Pakai Sembarangan
Aturan penggunaan suatu produk dibuat berdasarkan karakteristik produk tersebut.
Mengubah jumlah, frekuensi, atau cara penggunaan tanpa dasar yang jelas dapat mengubah paparan tubuh terhadap bahan aktifnya.
Karena itu, apabila ingin menggunakan produk di luar aturan yang tertera, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Bagaimana dengan Herbal yang Digunakan Secara Tradisional?
Penggunaan herbal secara turun-temurun merupakan bagian penting dari sejarah pengobatan tradisional.
Namun, pengalaman penggunaan tradisional tidak berarti semua bahan dapat digunakan tanpa memperhatikan keamanan dan takaran.
Di Indonesia sendiri, obat bahan alam memiliki beberapa kategori dengan tingkat pembuktian yang berbeda.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa jamu terutama didukung oleh pengalaman empiris, sementara Obat Herbal Terstandar (OHT) telah melalui pengujian praklinis dan fitofarmaka telah melalui pengujian klinis pada manusia.
Artinya, semakin jauh suatu produk berkembang dari penggunaan tradisional menuju kategori dengan pembuktian yang lebih tinggi, semakin besar pula perhatian terhadap standardisasi, keamanan, mutu, dan bukti khasiatnya.
Karena itu, penting untuk membedakan antara:
“Sudah digunakan secara turun-temurun”
dan
“Sudah memiliki bukti ilmiah yang cukup untuk klaim tertentu.”
Keduanya bukan hal yang sama.
Jadi, Berapa Dosis Herbal yang Tepat?
Tidak ada satu angka dosis yang bisa diterapkan untuk semua herbal.
Dosis yang tepat bergantung pada bahan yang digunakan, bentuk sediaan, konsentrasi, tujuan penggunaan, aturan produk, serta kondisi orang yang mengonsumsinya.
Karena itu, memberikan angka dosis secara umum tanpa mengetahui jenis dan bentuk produk justru dapat menyesatkan.
Untuk produk herbal yang sudah dikemas, aturan pada label menjadi titik awal yang penting. Jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu, sedang hamil atau menyusui, akan memberikannya kepada anak, atau sedang menggunakan obat tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah yang lebih aman.
Kesimpulan
Herbal memang berasal dari alam, tetapi bukan berarti penggunaannya bebas dari aturan.
Setiap tanaman memiliki karakteristik dan senyawa yang berbeda. Proses pengolahan juga dapat menghasilkan bentuk dan konsentrasi produk yang berbeda. Selain itu, kondisi tubuh seseorang dan obat lain yang sedang digunakan dapat memengaruhi keamanan penggunaan herbal.
Karena itu, dosis menjadi bagian penting dalam penggunaan herbal.
Bukan karena herbal harus diperlakukan sama persis dengan obat modern, tetapi karena bahan herbal juga dapat memiliki aktivitas biologis dan berpotensi memberikan efek maupun interaksi tertentu terhadap tubuh. WHO dan NCCIH sama-sama menekankan pentingnya memperhatikan keamanan serta kemungkinan interaksi herbal dengan obat lain.
Prinsip sederhananya adalah:
alami bukan berarti tanpa risiko, dan lebih banyak bukan berarti lebih baik.
Gunakan sesuai aturan, perhatikan komposisi dan peringatan pada label, pastikan produk berasal dari sumber yang terpercaya, serta konsultasikan dengan tenaga kesehatan apabila terdapat kondisi khusus atau penggunaan obat lain.
Dengan begitu, herbal tidak hanya digunakan berdasarkan anggapan bahwa “karena alami pasti aman”, tetapi berdasarkan pemahaman yang lebih tepat mengenai dosis, keamanan, dan cara penggunaannya.
