Kenapa Makanan Terasa Hambar Saat Hidung Tersumbat?
Kenapa makanan terasa hambar saat hidung tersumbat? Ini penjelasan tentang hubungan penciuman, rasa, dan aroma makanan.
Hidung tersumbat dapat memengaruhi kemampuan mencium aroma, sehingga makanan terasa lebih hambar meski lidah tetap mengenali rasa dasar.
Pernah merasa makanan tiba-tiba tidak seenak biasanya ketika sedang pilek? Rasa manis masih terasa, asin masih bisa dikenali, tetapi makanan seperti kehilangan sesuatu. Kopi tidak sewangi biasanya, buah terasa lebih datar, bahkan makanan favorit pun kadang terasa biasa saja.
Hal ini bukan sekadar perasaan. Hidung memang memiliki peran penting dalam pengalaman kita ketika makan. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) menjelaskan bahwa banyak orang yang merasa kehilangan rasa sebenarnya mengalami gangguan penciuman. Ketika hidung tersumbat, aroma dari makanan lebih sulit mencapai sistem penciuman sehingga makanan dapat terasa hambar.
Rasa Bukan Hanya Pekerjaan Lidah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan kata “rasa” untuk menggambarkan hampir seluruh pengalaman ketika makan. Namun secara ilmiah, taste dan flavor bukanlah hal yang sama. Taste berkaitan dengan rasa dasar yang diterima oleh sistem pengecapan, seperti manis, asin, asam, pahit, dan umami. Sementara itu, flavor merupakan pengalaman yang lebih kompleks karena melibatkan pengecapan, penciuman, tekstur, suhu, dan sensasi lain yang muncul ketika makanan berada di dalam mulut.
Penciuman menjadi bagian penting dari proses tersebut. Saat makanan dikunyah, senyawa aromanya dapat bergerak dari bagian belakang mulut menuju rongga hidung. Jalur ini dikenal sebagairetronasal olfaction atau penciuman retronasal. Otak kemudian menggabungkan informasi aroma tersebut dengan informasi dari lidah dan indera lainnya untuk membentuk persepsi terhadap makanan. Tinjauan ilmiah mengenai persepsi flavor juga menyebutkan bahwa penciuman merupakan elemen penting untuk mengalami flavor secara utuh.
Karena itu, ketika hidung tersumbat, bukan berarti lidah tiba-tiba berhenti bekerja. Rasa dasar masih dapat dikenali, tetapi sebagian informasi yang biasanya membuat makanan terasa kompleks menjadi berkurang.
Apa yang Terjadi Saat Hidung Tersumbat?
Saat pilek atau mengalami peradangan pada saluran hidung, jaringan di dalam hidung dapat membengkak dan produksi lendir meningkat. Kondisi ini dapat menghambat jalur yang dilalui udara dan molekul aroma menuju area penciuman.
NIDCD menjelaskan mekanismenya dengan cukup sederhana: ketika kita mengunyah makanan, aroma dilepaskan dan mencapai sistem penciuman melalui jalur yang menghubungkan bagian belakang mulut dengan hidung. Jika jalur tersebut terganggu karena hidung tersumbat, aroma tidak dapat mencapai sel sensorik penciuman secara optimal. Akibatnya, salah satu komponen utama yang membuat makanan terasa beraroma dan menarik ikut berkurang.
Itulah sebabnya makanan bisa terasa “hambar” meskipun sebenarnya tidak kehilangan seluruh rasanya. Kita masih dapat mengenali bahwa sesuatu itu manis, asin, atau asam, tetapi lebih sulit menangkap karakter aromanya secara lengkap.
Coba bayangkan secangkir kopi. Rasa pahitnya tetap dapat dikenali tanpa penciuman yang optimal. Namun karakter aroma kopi yang biasanya membuatnya terasa berbeda dari minuman pahit lainnya menjadi lebih sulit ditangkap. Hal yang sama dapat terjadi pada buah, cokelat, rempah, atau makanan yang memiliki aroma kuat.
Kenapa Kita Sering Mengira Lidah yang Bermasalah?
Salah satu alasannya adalah karena dalam percakapan sehari-hari kita jarang membedakan antara rasa dan flavor. Ketika makanan terasa berbeda, kita spontan mengatakan, “Lidahku nggak bisa merasa.”
Padahal, menurut NIDCD, orang yang datang ke dokter karena merasa kehilangan rasa sering kali ternyata mengalami masalah pada penciuman. Kehilangan rasa yang benar-benar terjadi memang ada, tetapi kehilangan atau penurunan penciuman dapat membuat makanan terasa jauh kurang berkarakter.
Ini juga menjelaskan sebuah pengalaman sederhana yang mungkin pernah kita alami. Saat hidung ditutup ketika makan, rasa dasar makanan masih dapat dikenali. Setelah hidung dibuka, makanan biasanya terasa lebih lengkap karena informasi aromanya kembali masuk. Ketika sedang pilek, kondisi yang serupa dapat terjadi tanpa kita sengaja.
Jadi, makanan favorit yang mendadak terasa biasa saja bukan berarti resepnya berubah. Bisa jadi otak sedang menerima informasi yang lebih sedikit dari hidung.
Tidak Selalu Hanya Karena Pilek
Hidung tersumbat akibat pilek memang salah satu penyebab sementara perubahan penciuman. Namun gangguan penciuman juga dapat disebabkan oleh alergi, infeksi saluran pernapasan, masalah pada hidung atau sinus, obat-obatan tertentu, cedera kepala, hingga kondisi medis lainnya. NIDCD juga menjelaskan bahwa perubahan kemampuan mencium dapat berlangsung sementara maupun lebih lama, tergantung penyebabnya.
Karena itu, jika makanan terasa hambar hanya ketika sedang pilek lalu kembali normal setelah kondisi membaik, biasanya masalahnya berkaitan dengan terganggunya penciuman selama hidung tersumbat. Namun jika kemampuan mencium atau mengecap terus menurun, berubah tanpa sebab yang jelas, atau tidak kembali seperti sebelumnya, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan kepada tenaga kesehatan, terutama dokter THT.
Menariknya, penelitian tentang penciuman juga terus berkembang. NIDCD pada 2025 masih menyoroti bahwa gangguan penciuman cukup umum dan dapat memiliki berbagai penyebab, mulai dari infeksi hingga peradangan pada hidung dan saluran pernapasan.
Jadi, Mengapa Makanan Terasa Hambar?
Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Karena menikmati makanan bukan hanya pekerjaan lidah.
Lidah memberikan informasi tentang rasa dasar. Hidung memberikan informasi tentang aroma. Tekstur dan suhu juga ikut berperan. Semua informasi tersebut kemudian diproses bersama oleh otak menjadi pengalaman yang kita sebut sebagai flavor.
Ketika hidung tersumbat, sebagian informasi aroma tidak dapat diterima secara optimal. Akibatnya, makanan masih memiliki rasa, tetapi karakter dan aromanya terasa lebih sederhana.
Mungkin itu sebabnya semangkuk makanan yang biasanya begitu nikmat bisa terasa biasa saja ketika sedang pilek. Makanannya tidak berubah. Hanya saja, ada satu bagian penting dari cara tubuh mengenalinya yang sedang tidak bekerja sebaik biasanya.
Kesimpulan
Makanan terasa hambar saat hidung tersumbat karena gangguan pada penciuman dapat mengurangi kemampuan kita menangkap aroma makanan. Lidah tetap dapat mengenali rasa dasar seperti manis, asin, asam, pahit, dan umami, tetapi informasi aroma yang membantu membentuk flavor menjadi lebih terbatas.
Jadi, ketika makanan terasa kurang nikmat saat sedang pilek, belum tentu lidah yang bermasalah. Bisa jadi, hidung sedang membuat kita kehilangan sebagian informasi yang biasanya membuat makanan terasa lebih lengkap.
Referensi
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD). Taste Disorders. National Institutes of Health.
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD). Smell Disorders. National Institutes of Health.
Goldberg, E., Wang, K., Goldberg, J., & Aliani, M. Factors affecting the ortho- and retronasal perception of flavors: A review. Critical Reviews in Food Science and Nutrition.
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD). The Science of Scent: Understanding Smell Disorders. 2025.

